Menanam Sayuran di Polybag dan Pot

Menanam sayuran dengan lahan terbatas itu susah-susah gampang.

Rumahku terletak di pinggir kota, dikelilingi oleh pabrik, rumah warga, dan beberapa sawah yang masih aktif. Namun aku tak punya halaman belakang, hanya sebuah lahan kecil dengan ukuran 200x60cm yang menempel ke rumah kami. Sebelumnya lahan itu pernah Ibu dan Abah tanami dengan sosin dan kangkung, paria, dan lidah buaya yang begitu cepat beranak pinak. Kemudian tanaman-tanaman itu mati setelah terkena semen karena adanya pembangunan di rumah disamping kami. 

Setelah itu Ibu dan mendiang Abah libur menanam-nanam apapun karena masih gendok dengan matinya tanaman-tanaman tersebut.

Disamping lahan itu, Ibu dan mendiang Abah juga terbiasa menanam didalam pot yang merupakan bekas cat dan bekas galon air di gang samping rumah; gang itu hanya selebara 80cm yang sesungguhnya merupakan tempat kami menjemur baju. Kami pernah menanam tanaman cabai rawit domba dan juga tomat cherry yang saat itu aku minta tanamkan ke alm.Abah dan berhasil tumbuh dengan subur. Cabai rawit domba dan tomat cherry itu kerap Abah bagi-bagikan kepada tetangga. Namun kemudian tanaman-tanaman yang memang biasanya Abah yang merawat itu tak bertahan lama setelah Abah meninggal dunia.

Lalu Ibu ataupun aku tak pernah menanam apapun lagi dan membiarkan lahan 200x60cm dan pot-pot bekas tanaman cabai dan tomat itu ditumbuhi tanaman liar selama hampir dua tahun. 

Kemudian wabah Covid19 terjadi.

Secara kebetulan aku telah bekerja sebagai menjadi seorang freelancer sejak September 2019 setelah di PHK secara masal dari kantor pertamaku bekerja. Menjadi seorang freelancer membuatku memiliki banyak waktu luang dan membuatku sempat menghimpun banyak informasi tentang se berbahaya apa wabah yang awalnya menyerang Wuhan-Cina ini. Diantara video-video yang kutonton, ada video yang menyadarankan penonton videonya untuk bersiap-siap menghadapi skenario terburuk; langkanya makanan. Bagaimana cara menghadapinya? Bercocok tanam.

Aku mengutarakan niatku pada Ibu, mengatakan bahwa Aku ingin menanam sayuran seperti bayam dan kangkung di lahan 200x60cm disamping rumah, tetapi karena saat itu masih dipenuhi rumput dan tanaman liar tentu saja Ibu bilang lebih baik kami menanamnya di pot. Lalu kami membeli bibit sayuran di salah satu supermarket karena toko yang menjual bibit tanaman di pasar kebetulan tidak buka. Tak lama setelah itu Ibu yang selalu gerak cepat dan bisa diandalkan membawa beberapa pot tanaman dan mulai mengisinya dengan tanah. 

Bercocok tanam tidaklah mudah. Terutama jika kau tak punya banyak lahan untuk melakukannya. Terlebih lagi bercocok tanam juga sama seperti kegiatan profesional lainnya yang membutuhkan ilmu yang tepat; membuat tanaman tetap hidup tidak semudah yang pernah kubayangkan. Mengucapkannya jelas lebih mudah. Untunglah Ibu sudah pernah menanam kangkung dan bayam sebelumnya.

Lalu mulailah kami bercocok tanam. Ibu mengisi pot-pot plastik yang Ibu beli di salah satu pusat perlengkapan rumah didekat rumah kami; jauh sebelum kasus Covid19 membludak di Indonesia. Ibu membelinya sekitar akhir bulan Februari. Kami juga membeli tanah, pupuk NPK, dan satu mawar berwarna pink. Ini adalah dokumentasi beberapa tanaman yang Ibu dan aku tanam; kangkung, bayam, dan tanaman cabai rawit. Usia tanamannya saat aku mengambil foto ini kurang lebih 3 minggu.

(tanaman bayam di pot panjang)
sumber: dokumentasi personal

(tanaman kangkung di pot panjang)
sumber: dokumentasi personal


(tanaman cabai rawit di bekas galon air minum)
sumber: dokumentasi personal

Aku selalu suka tanaman meski tak begitu pandai merawatnya. Dulu pernah sekali mencoba memelihara kaktus yang tidak bertahan lama sama sekali karena aku terlalu sibuk kuliah dan tak mencari tahu bagaimana cara merawatnya sama sekali. Aku sembarangan saat itu, tak peduli bagaimana cara mempertahankan sang kaktus agar tetap hidup. Aku pun beberapa kali gagal menjadikan bibit yang kerap kudapatkan dari kawan kuliahku yang juga suka menanam tanaman yang hidup dan sehat. Aku sempat ragu pada diriku sendiri saat akan menanam ini, itulah mengapa aku mengandalkan ibu yang memang sudah pernah menanam sayur. Ibu kerap menegurku yang tak percaya diri dan kerap mengatakan "Semoga hidup, ya" Ibu bilang jalani saja dahulu, dicoba. 

Dan ya, menanam memang tidak semudah yang kukira, tetapi bisa dilakukan jika kita bersungguh-sungguh melakukannya. Tanaman cabai rawit dan bayam itu kutanam dengan hati-hati dan kusirami hingga terlalu basah (sekarang aku sudah tahu tidak baik menyiram tanaman terlalu banyak). Wabah ini membuatku mempelajari hal baru; bercocok tanam. Aku mulai berani membeli beberapa bibit lain seperti selada, wortel, bahkan mencoba memperbanyak bawang-bawangan setelah tanaman cabai rawit dan bayam yang kutanam berhasil tumbuh. 

Saat aku memposting tulisan ini, sudah ada lebih banyak lagi tanaman di lahan terbatas kami... Aku akan menceritakannya lagi nanti. Yang jelas saat ini aku yang tak punya kegiatan lain dan khawatir dengan masa depan menemukan kesukaan baru; menanam sayuran di lahan kosong terbatas kami. 

Komentar